Nggayuh Tresnaning Gusti Allah (1)

April 27th, 2015

Mendengar kabar tentang diadakannya maiyah Ngaji bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng di SMAN 2 Yogyakarta pada Sabtu malam kemaren (25-04-2015) sama halnya dengan mendapat hembusan angin segar. Bedanya angin tersebut tidak menerpa secara fisik ke tubuh yang dapat dirasakan melalui indra peraba, melainkan merasuk kedalam hati dan pikiran. Bagi saya, forum semacam maiyah ini benar-benar menjadi semacam oase bagi mereka yang mendambakan kejujuran dalam hati dan kedaulatan berpikir secara penuh, sebab pada dasarnya Tuhan menganugerahkan akal dan hati kepada manusia untuk berpikir dan ‘merasakan’ secara otentik (suci).

Apa yang disampaikan Cak Nun lebih mengarahkan pola pikir kita untuk mendalami secara hakiki siapa sebenarnya diri kita, siapa sebenarnya diri sosial kita, di tengah silang sengkarut dunia yang saat ini sudah mencapai titik kronisnya. Karena yang kita tahu hanyalah sebatas ‘jarene’ atau katanya. Kita tidak pernah berusaha dan berhasil menggali sebenar-benarnya informasi mengenai kita dan apa yang terjadi di sekitar kita.

Coba tanyakan kepada diri kita sendiri secara jujur, dari seluruh informasi-informasi yang berjubel (sengaja dihadirkan) di hadapan kita, menurut anda berapa kira-kira persentase informasi antara yang hanya kita dapat dari membaca dan dari yang benar-benar kita tahu/alami? Katakanlah misalnya 90% dari bacaan (media massa dan sebagainya) dan 10% dari yang benar-benar kita ketahui secara pasti/alami. Dari 90% informasi yang didapat dari membaca tersebut, menurut anda berapa persentase antara informasi yang ‘memang terbukti benar’ dan informasi yang sebenarnya hanya ‘merupakan rekayasa dari pihak-pihak tertentu’? Katakanlah misalnya 15% benar dan 85% rekayasa. See? Jadi selama ini kita dikurung oleh rekayasa-rekayasa atau informasi yang sebenarnya tidak kita ketahui secara pasti kadar kebenarannya.

Inilah yang agak meresahkan, karena dapat disimpulkan bahwa musuh pintar/tahu bukanlah bodoh/ketidaktahuan, melainkan ilusi. Ilusi inilah yang membuat kita merasa ‘seolah-olah’ tahu tentang sesuatu padahal sebenarnya yang kita ketahui itu belum tentu benar, akan tetapi kemudian kita klaim itu sebagai sebuah kebenaran.

Sehingga sangat masuk akal mengapa Nabi Muhammad SAW itu mempunyai sifat al-Ummy yakni tidak bisa baca-tulis. Informasi yang sampai kepada beliau adalah informasi yang otentik dari Tuhan yang disampaikan langsung ‘perdana menteri’-Nya yakni Malaikat Jibril, dan karena sifat itulah Nabi Muhammad SAW terhindar dan bebas segala dari informasi-informasi yang menyesatkan yang sampai kepada beliau.

Karena tema ngaji malam itu adalah Nggayuh Tresnaning Gusti atau dengan kata lain Menggapai Cinta Tuhan, maka kita diajak untuk kembali merumuskan dan merenungkan bagaimana caranya supaya Tuhan menganugerahkan cinta-Nya kepada kita? Bagaimana caranya supaya Rahman dan Rahim-Nya sampai kepada kita? Apa yang harus kita lakukan supaya cinta Tuhan sampai kepada kita?

Untuk mendapatkan perhatian Tuhan, tentu yang harus kita lakukan adalah dengan mengingat dan menemukan kehadiran-Nya. Kemudian kapan atau di waktu apa saja kita mengingat atau menemukan Tuhan? Apakah kita mengingat Tuhan ketika sedang beribadah saja? Atau saat sedang sedih atau susah? Atau ketika sedang berdoa memohon sesuatu? Atau ketika kita sedang terkena musibah?

Kalau kita hanya menemukan Tuhan saat beribadah dan merasakan kesengsaraan, pertanyaan selanjutnya adalah lalu di mana Tuhan saat kita senang? Di mana Tuhan saat kita mendapatkan kegembiraan? Ingatkah kita kepada Tuhan saat Dia melimpahkan rizki kepada kita? Hadirkah Tuhan dalam ingatan batin kita ketika kita sedang merasakan kegembiraan yang sangat luar biasa?

Ketika kita melihat tanaman dalam sebuah pot, lantas apa kita ada di pikiran kita? Biasa-biasa saja, atau ada sesuatu dibalik yang ‘biasa-biasa’ itu? Kalau kita runut lebih dalam lagi, siapa yang menciptakan tanaman itu? Siapa yang menciptakan tanah sebagai tempat hidup tanaman itu? Siapa yang menciptakan air agar tanaman dalam pot itu bisa tumbuh?

Dari pertanyaan-pertanyaan sederhana itu, jelas bahwa Tuhan tidak pernah lepas dari segala urusan yang ada di dunia ini, dan tidak ada sesuatu apapun di dunia ini yang tanpa ada campur tangan Tuhan. Jadi seharusnya kita tidak punya alasan untuk tidak selalu berdzikir atau mengingat Tuhan.
3:190

 

 

3:191

 

 

 

 

Bersambung…

Menegakkan ‘Pagar’ dalam Diri.

April 7th, 2015

images(pic. taken from http://www.kaskus.co.id/gotothread/21/1427622432/prev)

Sama seperti tulisan saya yang sebelumnya tentang “Perbedaan Sekolah dan Pesantren“, saya masih menggandrungi kegemaran saya untuk mengisi waktu luang dengan nonton video-video Maiyahan, Cak Nun dan Sabrang di youtube, biar nggak gabut-gabut amat lah 🙂 (maklum kerjaan sedang agak selo). Saat nonton video-video itu saya merasa tidak hanya terhibur namun juga berpikir, karena dalam diskusi itu kita diajak untuk mencari menemukan kesejatian. Dalam video yang berdurasi sekitr 13 menit ini, Sabrang menjelaskan bagaimana konsep menegakkan ‘pagar’ dalam kehidupan manusia.

Singkat kata, ketika kita berbicara tentang menegakkan pagar, tentu kita berpikir hal apa agar apa yang membutuhkan sebuah pagar. Seketika yang terbersit dalam pikiran Sabrang adalah yang butuh pagar itu ya kambing. Seekor kambing kalau tidak dipagari, dimasukkan dalam kandang, atau dicencang dengan tali dia akan makan rumput tetangga karena kambing tidak bisa diberi pemahaman secara konsep bahwa dia tidak boleh makan rumput milik tetangga. Tingkatan manusia itu bisa dipagari dengan konsep, sedangkan tingkatan kambing itu hanya bisa dipagari dengan sebuah pagar.

Jadi kalo jalur busway itu dipagari oleh pemerintah, atau diberi separator, maka secara implisit sebenarnya anda-anda ini sudah dianggap kambing oleh pemerintah 😀 . Tapi ya walau bagaimanapun tetap saja pasti akan dilanggar lhawong yang dipagari itu manusia, dia lebih pandai dari pada seekor kambing.

Kalau yang dianggap pagar miring dalam diskusi kali ini adalah penegakan hukum, maka kita perlu mencari kasus tentang hukum apa yang dalam sejarah sama sekali tidak pernah dilanggar manusia sehingga hukum adalah pagar yang efektif untuk manusia. Kalo kita cermati akhir-akhir ini yang ketemu adalah sebuah adagium bahwa ‘aturan itu dibuat untuk dilanggar’. (Lha jigur.. iki njuk pie arek ki jan-jane? 😀 )

Satu hal yang tidak pernah dilanggar oleh manusia adalah hukum Tuhan seperti kebelet buang air besar,buang air kecil, gravitasi, jatuh dan lain sebagainya. Kalau hukum tuhan anda langgar, misalnya menahan kencing terus-terusan padahal Tuhan memerintahkan anda untuk kencing, maka Tuhan akan menghukumnya dengan membledoskan kantung kemihnya. Ketika yang dimaksud pagar adalah hukum apalagi hukum ciptaan manusia itu maka pasti akan dilanggar.

Konsep dasarnya adalah pagar atau hukum itu dibuat agar manusia terlindungi dari kedzaliman manusia yang lain (menurut anda benar atau tidak? 🙂 ). Nah, pertanyaannya sekarang adalah, musuh terbesar manusia itu siapa? Manusia yang lain kah? Atau manusia itu sendiri? Dalam video itu audiens pun nampaknya bingung (dan saya juga 😀 ).

Ngobrol dengan Iblis

Ditengah kebingungan itu Sabrang lalu menceritakan pengalaman spiritualnya ngobrol sama iblis (eh mbah iblis ding 😀 )

“Mbah, kalau pagar atau hukum itu sudah dibuat sedemikian rupa dan manusia sedemikian pandainya untuk melanggar itu, sebenarnya apa sih kunci dasarmu sehingga sukses melaksanakan misimu ini di dunia? Wes lah kasih saya dasarnya aja, SOP-nya aja. Soalnya kamu kelihatan nganggur deh sekarang, kamu pasti melakukan sesuatu sehingga manusia sekarang ini sudah bisa menjadi iblis bagi dirinya sendiri”

Mendengar pertanyaan Sabrang itu, si iblis pun hanya tertawa.

Nyeeek.. 😀 . Kamu itu bisanya cuma ngaku umatnya kanjeng Nabi saja. Saya itu kalo mengganggu manusia itu tidak seperti yang kamu bayangkan” kata iblis. “Nggak pernah saya membisiki manusia untuk berbuat keburukan. Karena, saya ini adalah musuh terlemah untuk manusia. Musuh yang terkuat dan terbesar untuk manusia menurut kanjeng Nabi adalah dirinya sendiri. Kalau musuh manusia adalah dirinya sendiri, ya saya tidak perlu membisiki dia, saya tinggal menciptakan musuh dalam dirinya masing-masing, sehingga dia akan kalah dengan dirinya sendiri.”

Sabrang pun meneruskan pertanyaannya.

“Lha terus gimana mbah caranya kamu menciptakan musuh dalam diri manusia? Wes lah aku wenehi contone wae.”

Iblis menjawab.

Ngene iki lho rek. Saya itu hanya memberi sebuah cita-cita yang bisa dipandang semua orang, lalu dengan sendirinya akan terbangun musuh dalam diri seseorang tersebut untuk mencapai yang ia cita-citakan. Contohnya orang kaya. Ketika ada orang kaya yang semua orang lihat dan semua orang pengen, kemudian cita-citanya orang sekarang yakni ingin menjadi orang kaya, dan setelah itu cita-citanya akan mengalahkan apa saja yang ada di dunia.”

Ternyata iblis itu sebenarnya hanya memberi cita-cita, lalu kita sendiri yang tertarik pada cita-cita tersebut dan kemudian kita kehilangan kuda-kuda atas diri sendiri hanya karena cita-cita yang dia ciptakan. Lha jebul mung gur setitik, sithik, secuil. 😀

Karena masih belum merasa menemukan resolusi atas pernyataan si iblis, Sabrang pun melanjutkan pertanyaannya.

“Lha terus bagaimana caranya untuk melawan musuh yang terberat, yakni diri kita sendiri itu?. Kira-kira pagar apa yang harus saya ciptakan, pagar mana yang harus saya tegakkan?”

Iblis menjawab.

“Kamu jangan lupa lho kalimatnya, ‘musuhmu adalah dirimu sendiri’. Berarti, semakin kamu pandai musuhmu semakin pandai, ketika kamu semakin kuat musuhmu semakin kuat, ketika kamu semakin bijaksana musuhmu semakin bijaksana, ketika kamu semakin waskito musuhmu semakin waskito.” (asem, iki yo rodo *su jane.. hehehe 😀 )

Hah, lha terus gimana caranya melawan musuh diri sendiri ini?? Karena semua yang kita kerjakan atau kita punya untuk melawan dia, dia juga punya resourcesnya. Pagarnya terus dimana? Lalu apa yang harus ditegakkan? Kalau pagar yang sejak awal dibahas tadi adalah untuk melindungi kita dari orang lain, lha terus gimana ini lhawong ternyata musuh terberatnya adalah yang ada didalam pagar itu, bukan yang diluar pagar? (Pie? Ngelu ra? Aku yo ngelu rek. Tapi ra popo, menungso iku wajib ngelu mergo nduwe akal 😀 )

Kalau saya melawan dia dengan kekerasan, dia akan punya kekerasan yang sama dengan saya. Dan ketika sebuah kekerasan melawan kekerasan yang sama, maka yang terjadi adalah sama-sama kehancuran. Berarti saya menghancurkan diri sendiri kalo saya melawan diri saya ini.

Lha njuk pie iki jawabane??

Ada Jalan Lain

Ternyata setelah direnungkan ada jalan lain. Jalan itu adalah biarlah aku menampung musuhku. Biarlah aku menjadi laut yang senantiasa menampung sampah musuh-musuhku. Dengan kata lain, kalau menurut Syeikh Irwan Ahmad Akbar: “Biarlah aku mengajaknya ngopi joss sambil ngudud” 😀

Jadi, melawan diri sendiri ini apakah harus menegakkan pagar? Karena kita nantinya hanya akan menciptakan batas antara diri kita dan diri kita sendiri yang menjadi musuh kita. Padahal PR terbesar dalam hidup ini adalah menemukan diri sendiri, termasuk yang menjadi musuh kita.

Lalu pagarnya dimana?

Sabrang mengemukakan bahwa yang ia temukan disini adalah bagaimana kita bisa menampung diri ktia sendiri, bagaimana kita bisa menerima musuh kita sendiri, bagaimana kita bisa mengidentifikasi musuh kita sendiri, yang merupakan bagian dari diri kita. Ketika kita terpengaruh sebuah cita-cita untuk menjadi kaya, oke nggak apa-apa, itu adalah ‘bagian dari diri kita’. Kata kuncinya adalah ‘itu bagian dari diri kita, tapi jangan biarkan itu menjadi diri kita’.

Kesimpulannya, pagarnya sebenarnya adalah kita selalu sadar bahwa itu adalah diri kita atau hanya bagian dari diri kita.

Ketika pagar antara diri sendiri dan bagian dari diri sendiri itu sudah terjaga, sudah terbangun dengan baik, maka pagar yang diluar agaknya sudah tidak begitu dibutuhkan lagi karena kita sudah bukan ancaman untuk tetangga kita, dan kita sudah bukan ancaman lagi untuk orang lain.

Kuncinya adalah bagaimana kita bisa memahami diri sendiri secara utuh. 🙂

ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا و ترحمنا لنكونن من الخاسرين

Sumber : youtube.com

The Defect of Our Education System

December 16th, 2014

wpid-pabrik-pendidikanhttps://pipitwahyuni5.files.wordpress.com/2014/06/wpid-pabrik-pendidikan.jpg

Ditengah pekerjaan yang menumpuk, saya iseng-iseng searching video-video ‘maiyahan’ di Youtube untuk melepas penat. Yang menarik ketika itu saya menemukan video yang isinya membahas tentang “Perbedaan Sekolah dan Pesantren” yang disampaikan Cak Nun dan Sabrang. Di situ saya menemukan secercah pemahaman bagaimana asal muasal adanya sistem kelas dalam sekolah-sekolah formal dan implikasinya yang terjadi saat ini, bahkan untuk generasi-generasi selanjutnya. Mohon maaf tidak bisa menambahkan link-nya karena di kantor saya tidak bisa akses Youtube ( 🙁 maklum), jadi berikut saya petikkan kira-kira sedikit transkripsinya :

Dalam video tersebut, Sabrang menuturkan bahwa sistem pembelajaran kelas, yaitu satu guru dengan banyak murid itu diciptakan ketika masa yang disebut sebagai masa kegelapan di Eropa. Karena sebelum itu, ilmu sangat berkembang di Timur Tengah, dan sistem pembelajarannya bukan sistem kelas, tapi sistemnya adalah sistem kontrak. Misalnya ada seorang guru atau seorang ahli, jadi si murid datang ke gurunya tersebut terus bilang “Saya pengen belajar Astronomi”, lalu kontrak belajar berani berapa tahun.

Karena di Eropa ada masa kegelapan, maka orang pinternya sedikit, jadi mereka belajar ke Timur Tengah. Terus ketika setelah mereka belajar mereka ingin menyebar pengetahuan itu kepada orang lain, maka dibuatlah sistem kelas, dimana satu guru dengan banyak murid. Nah, akhirnya terjadilah pembelajaran-pembelajaran tersebut, terus kemudian ada satu titik yang dinamakan ‘Revolusi Industri’ yang terjadi pertama kali di Perancis . Jadi saat itulah asal muasal barang-barang dibuat secara massal, secara banyak, untuk dikonsumsi massa.

Nah untuk membuat pabrik, untuk membuat perusahaan, itu kan membutuhkan banyak orang yang punya standar pendidikan, makanya dibuat standar pendidikan sarjana, ada S1, S2, S3. Nah, jenjang-jenjang tersebut dibuat untuk menyiapkan pekerja, untuk mendukung apa yang dinamakan dengan Revolusi Industri tersebut. Jadi sistem (baca – pembelajaran) yang kita kenal sekarang adalah menyiapkan manusia untuk menjadi pekerja bukan untuk menemukan dirinya sendiri seperti yang sebelumnya, yakni di Timur Tengah. Dan kalau melihat kenyataan sekarang, bisa disebutkan bahwa sarjana itu mengalami inflasi, karena tidak ada jaminan kalau sarjana itu mendapatkan pekerjaan. Jumlah sarjana jauh lebih besar daripada jumlah lapangan pekerjaan yang terbuka. Dan biasanya, seperti yang orang-orang bilang, yang menjamin pekerjaan bukan bukanlah sarjananya tapi koneksinya dan pengalaman kerjanya yang justru tidak diajarkan kadang-kadang di universitas.

Nah, memang sekolah itu penting. Anda harus lulus sekolah. Karena untuk bisa mengatakan sekolah itu nggak penting anda harus tahu pernah lulus yang namanya sekolah.

Jadi, pembelajaran tidak hanya di sekolah, pembelajaran ada dimana saja. Ada kauniyah ada qouliyah, ada alam semesta, ada pengalaman sehari-hari yang bisa diambil ilmunya. Jadi sekolah itu seberti begini lho : “Tes-nya sama”, maksud saya begini : Ada anak yang katakanlah seperti bebek, seperti kambing, monyet, gajah (baca – punya bakat-bakat yang berbeda), tapi ujiannya sama, yaitu “Ayo manjat pohon!”. Lha terus gajahnya ya pasti dianggap bodoh oleh sistem pendidikan tersebut karena dia tidak diajari untuk menemukan dirinya sendiri sebagai gajah, tapi semua harus bisa manjat pohon. Sama seperti yang itu kembali, yakni disiapkan untuk menjadi pekerja.

72175_640684975958369_1345262865_nhttp://muhammadilham56.blogspot.com/2013/06/kesalahan-sistem-pendidikan-di-indonesia.html

Jadi yang Cak Nun ingin saya katakan adalah jangan terlalu terpaku atau terpatok pada sistem pendidikan yang ada sekarang, karena itu adalah turunan (lahir) dari cara menyiapkan anak-anak kecil, anak-anak generasi berikutnya menjadi pekerja, bukan menjadi pioneer. Jadi, semua anak lahir unik sesuai dengan jati dirinya sendiri, karena pendidikan yang tidak benar maka semua seragam mati, menjadi hal yang sama, menjadi manusia yang seragam. Padahal Tuhan menyuruh kita untuk menemukan diri kita sendiri yang masing-masing memang sebenarnya adalah unik.
*) dengan sedikit editan tanpa merubah substansi.

(Opini) Menyoal Fatwa Haram MUI Tentang Golput (Golongan Putih)

March 30th, 2014

(http://www.kpud-langkatkab.go.id/home)

Beberapa waktu terakhir ini, mungkin sebagaian dari kita pernah mendengar bahwa MUI mengeluarkan fatwa haram bagi umat Islam yang melakukan golput atau tidak menggunakan hak suaranya pada pemilu 9 April nanti. Akan tetapi, saya encoba berpandangan lebih jauh, bahwa fatwa haram tersebut “barangkali” bertujuan untuk meminimalisir madharat (konsekuensi negatif) dari terpilihnya wakil-wakil rakyat yang tidak baik dan berdampak pada pemenuhan kepentingan kelompok-kelompok tertentu, korupsi, kolusi, nepotisme, serta bobroknya birokrasi negeri ini.

Namun perlu kita ketahui, bahwa adanya “sesuatu” itu membutuhkan (mewajibkan) adanya “sesuatu” yang sebaliknya (negasi dari sesuatu tersebut). Misalknya, kita mengatakan bahwa rumah itu bersih, tentu kita akan berasumsi bahwa rumah itu sebelumnya pernah kotor. Kemudian ada “lapar dan kenyang”, “banyak dan sedikit”, “baik dan buruk”, bahkan sifat-sifat Tuhan Yang Maha Esa pun tidak semuanya wajib, ada pula sifat-sifat mustahil-Nya.

Saat seseorang sudah berusia 17 tahun, secara otomatis ia mendapatkan hak pilih untuk menentukan pilihannya pada pemilu yang akan datang. Ketika kita mendapatkan “hak untuk memilih”, tentu saja kita juga mendapat “hak yang sama untuk tidak memilih”, karena tidak memilih juga merupakan sebuah pilihan. Yang paling penting adalah kita harus bertanggungg jawab atas apa yang kita pilih nantinya. Lalu, bagaimana jika kita sama sekali tidak tahu, tidak kenal, atau bahkan tidak ada satu pun kandidat yang sesuai dengan kriteria-kriteria pilihan kita? Harus kah kita memaksakan diri kita untuk memilih yang tidak kita tahu seluk-beluk dan kredibilitasnya, atau bahkan tidak kita sukai?

Dalam hal ini semestinya MUI “tidak perlu” mengharamkan, karena tindakan tersebut sama sekali tidak sesuai dengan mayoritas kultur keagamaan bangsa Indonesia yang cenderung cair, moderat, dan tidak “saklek” (fanatik, radikal, fundalentalis, dsb). Malah yang akan terjadi adalah munculnya tindakan penolakan atau kecaman dari masyarakat, karena fatwa ini dinilai sangat “mekso” serta tidak mendidik masyarakat dalam berpolitik, bahkan berpotensi melanggar hak konstitusi warga negara.

(http://ruparupi.deviantart.com/art/KPU-Poster-Contest-2011-275195109)

Menurut hemat saya, seharusnya MUI cukup lebih menganjurkan kepada masyarakat untuk menggunakan hak pilihnya dengan benar dan bijaksana, supaya “hak suara” mereka tidak disalahgunakan pihak-pihak tertentu yang ingin berbuat kecurangan. Lebih bijaksana lagi apabila MUI menghimbau masyarakat Indonesia untuk berdo’a dengan sungguh-sungguh, memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Kuasa sebelum menentukan pilihan, supaya negara ini dihindarkan dan diselamatkan dari orang-orang yang ingin berbuat “curang”.

Wallahu a’lam bi ash-shawab..

Sri Sultan Hamengkubuwono IX : Semangat dan Inspirasi bagi Generasi Penerus Bangsa Indonesia

May 4th, 2012

1. Biografi Singkat

Sebagai warga negara Indonesia yang baik, kita pasti mengenal sosok Kanjeng Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Beliau adalah seorang Sultan yang pernah memimpin di Kasultanan Yogyakarta pada tahun 1940 – 1988 dan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)  yang pertama setelah kemerdekaan Indonesia. Selain itu, beliau juga pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia yang kedua, antara tahun 1973-1978. Beliau juga dikenal sebagai Bapak Pramuka Indonesia, dan pernah menjabat sebagai Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.

Sri Sultan Hamengkubuwono IX lahir di Yogyakarta, Hindia-Belanda (saat itu belum bernama Indonesia) pada tanggal 12 April 1912, dengan nama Bendoro Raden Mas Dorodjatun. Beliau adalah putra dari Sri Sultan Hamengkubuwono VIII dan Raden Ajeng Kustilah. Pada usia 4 tahun, beliau tinggal berpisah dari keluarganya. Beliau memperoleh pendidikan di HIS di Yogyakarta, MULO di Semarang, dan AMS di Bandung. Pada tahun 1930-an beliau melanjutkan studinya di Rijkuniversiteit (sekarang Universiteit Leiden), Belanda.

Beliau wafat pada tanggal 2 Oktober 1988 di George Washington University Medical Center, Amerika Serikat dan dimakamkan di pemakaman para sultan Mataram di Imogiri, Bantul, DI Yogyakarta. Berdasarkan Keppres no. 53/TK/1990, pada tanggal 30 Juli 1990 beliau ditetapkan sebagai Panlawan Nasional Republik Indonesia. Ada juga sumber yang memberikatan bahwa Sri Sultan Hamengkubuwono IX diangkat menjadi Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 8 Juni 2003 oleh presiden Megawati Soekarnopoetri.

2. Peran Sri Sultan Hamengkubuwono IX dalam Lahirnya UGM

Sejarawan Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Djoko Suryo menyebutkan, bahwa lahirnya UGM tidak telepas dari peranan Sri Sultan Hamengkubuwono (HB) IX.  Sultan HB IX menjadi salah satu founding father UGM sejak mulai pendirian Balai Perguruan Tinggi UGM pada 17 Februari 1946 sampai pendirian UGM  pada 19 Desember 1949, hingga berubah menjadi Universitiet Gadjah Mada sampai Universitas Gadjah Mada. (suaramerdeka.com)

Beliau mengatakan bahwa saat diresmikannya pembentukan Balai Perguruan Tinggi UGM, Sultan HB IX  dan Ki Hajar Dewantara menjabat sebagai Presiden dan Wakil Presiden Kurator Balai Perguruan Tinggi UGM.

“Pada saat itu, aktivitas perkuliahan dilaksanakan di Pagelaran Keraton, tapi sempat berhenti saat terjadi Agresi Militer Belanda I,” jelasnya dalam acara peringatan 1 abad Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang digelar di Pusat Kebudayaan Koesnadi Harjasoemantri UGM.

Di samping itu Sultan HB IX juga ikut mendukung penggabungan pendidikan tinggi yang tersebar di berbagai wilayah di Klaten, Surakarta, maupun yang ada di Yogyakarta menjadi satu perguruan tinggi yaitu Universitas Gadjah Mada yang berada di bawah (yang saat itu bernama) Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan. Penggabungan UGM itu mendapat dukungan penuh dari Sultan HB IX tidak hanya secara partisipatif, tetapi sejak awal ikut serta menggagas dan mewujudkan tidak hanya secara institusional namun juga secara aktual.

“Peran Sultan HB IX terhadap pendirian UGM sangat besar, baik secara historis, sosiologis, politik, kultural, idenasional – ideologis, faktual, material – fisikal dan spasial – lokasional,” urainya.

Secara nyata, Sultan HB IX juga memberikan bantuan dalam penyediaan sarana dan prasarana. Beberapa di antaranya adalah menyediakan tempat perkuliahan di Sitihinggil dan Pagelaran Kraton, serta gedung lainnya di sekitar kraton. Ditambah dengan menyediakan tanah kraton (Sultan Ground) untuk pendirian kampus UGM yang baru di wilayah Bulaksumur dan sekitarnya.

Dalam peringatan 1 abad Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang digelar di Pusat Kebudayaan Koesnadi Harjasoemantri UGM itu, GBPH Joyokusumo (putra dari Sultan Hamengkubuwono IX) menyampaikan rasa terima kasih kepada masyarakat Yogya khususnya masyarakat ilmuan UGM yang begitu mengapresiasi sepak terjang Sultan HB IX. Pihaknya bahkan tidak pernah mengharap apresiasi dari masyarakat Yogyakarta.

“Kami tidak pernah mengharapkan hal ini karena dalam prinsip beliau apa yang dilakukan adalah sekedar melaksanakan kewajiban atas komitmen yang telah dibuat,” ujarnya. (suaramerdeka.com)

3. Amanat Sri Sultan Hamengkubuwono IX

Untuk mengingat kembali sejarah bergabungnya Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia, berikut ini catatan lengkap bunyi amanat Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang ditandatangai pada 5 September 1945. (kompas.com)

Kami HAMENGKU BUWONO IX, Sultan Negeri Ngajogjokarto Hadiningrat menjatakan:

1.    Bahwa Negeri Ngajogjokarto Hadiningrat jang bersifat Keradjaan adalah daerah istimewa dari Negara Republik Indonesia.

2.    Bahwa Kami sebagai Kepala Daerah memegang segala kekuasaan dalam Negeri Ngajogjokarto Hadiningrat, dan oleh karena itu berhubung dengan keadaan dewasa ini, segala urusan pemerintahan Dalam Negeri Ngajogjokarto Hadiningrat mulai saat ini berada ditangan Kami dan kekuasaan-kekuasaan lainnja Kami pegang seluruhnja.

3.    Bahwa, perhubungan antara Negeri Ngajogjokarto Hadiningrat dengan Pemerintah Pusat Republik Indonesia bersifat langsung dan kami bertanggung-djawab atas negeri kami langsung kepada Presiden Republik Indonesia.

Kami memerintahkan supaja segenap penduduk dalam Negeri Ngajogjokarto Hadiningrat mengindahkan amanat Kami ini.

Ngajogjokarto Hadiningrat, 28 Puasa, Ehe 1976 (5 September 1945).

HAMENGKU BUWONO IX

4. Kesimpulan

Dari beberapa uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa sepak terjang, pengabdian dan kepemimpinan beliau sudah sepatutnya menjadi teladan bagi generasi penerus bangsa. Loyalitas beliau dalam membela dan menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsa sudah tidak diragukan lagi. Kapabilitas beliau sebagai pemimpin sudah sangat teruji. Walaupun beliau merupakan salahsatu tokoh yang besar, beliau tidak pernah melupakan nasib rakyatnya, khususnya rakyat Yogyakarta.

Bung Karno pernah berkata bahwa : “ Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawan – pahlawannya”. Inilah yang seharusnya menjadi pacuan semangat dan inspirasi bagi kita, penerus bangsa Indonesia tercinta untuk tetap berkarya demi kemajuan bangsa. Semoga kelak bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju dan sejahtera dengan senantiasa mengingat jasa – jasa pahlawannya. Amin.

sumber :

http://ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=4569

http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2012/04/11/115062/Sri-Sultan-Hamengku-Buwono-IX-Berperan-dalam-Lahirnya-UGM

http://id.wikipedia.org/wiki/Sri_Sultan_Hamengkubuwono_IX

http://www.jogjatv.tv/berita/10/04/2012/peringatan-1-abad-hb-ix

http://oase.kompas.com/read/2012/04/10/21461736/Peran.Sultan.HB.IX.Dalam.Pendirian.UGM

Komodifikasi dalam Program ‘Music Plus’ (Music +) di Metro TV serta Relevansinya dalam Teori Masyarakat Massa

April 26th, 2012

‘MUSIC PLUS’ (MUSIC +)

Nama Program : Music Plus (Music +)

Channel               : Metro TV

Jam tayang        : Setiap hari Minggu, pukul 22.05 WIB

Host                      : Ahmad Dhani

Genre                   : Talkshow and Perform (Music Live Show)

A. Penjelasan

‘Music Plus’ (Music +) adalah salah satu program unggulan Metro TV yang ditayangkan setiap hari Minggu pukul 22.05 WIB. Acara yang diusung oleh salah satu channel TV swasta tersebut menyuguhkan talk show yang membahas seputar musik dengan tema – tema menarik setiap minggunya, serta menghadirkan tamu yang sudah berpengalaman di belantika musik tanah air, sebut saja Lilo dari Kla Project, Dedy Lisan dari Andra and The Backbone, Anang, Bebi Romeo, dan masih banyak lagi. (imamhadikusuma.blogspot.com)

Disamping berbincang – bincang seputar dunia musik, kita juga di suguhi penampilan yang berkualitas dari para musisi yang handal dengan membawakan lagu mereka sendiri atau mengcover lagu – lagu band mancanegara yang terkenal seperti Queen, The Cranberries, Foo Fighters yang mana Foo Fighters adalah kelompok Alternative Rock/ Hardrock pimpinan Dave Grohl yang terbentuk pada tahun 1995, yang hingga kini masih eksis dan belum lama ini memenangkan ajang bergengsi Grammy Awards. (arifnurrahman.com). Selain itu juga mendendangkan musik – musik lawas era 90’an seperti lagu ‘Jogjakarta’ yang diciptakan Kla Project, ‘Kangen’ yang dipopulerkan oleh grup band Dewa yang sempat bongkar pasang personil, dan lain sebagainya.

Acara yang dibawakan oleh musisi sekelas Ahmad Dhani ini bisa menjadi oase bagi para penikmat musik tanah air yang merindukan musik – musik era ‘90an. Perlu diketahui bahwa musik era 90’an merupakan masa kejayaan belantika musik tanah air dimana para musisi – musisi sering mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional, seperti raihan Grand Champions berturut – turut oleh Lita Zein bersama Elfa’ Singer. (m.tokohindonesia.com). Selain itu, musik era 90’an begitu mengasyikkan untuk terus diingat dan direvitalisasi kehadirannya pada denyut kreatifitas. Bukan bermaksud untuk mengesampingkan musik zaman sekarang (saat ini), namun era tersebut terlalu memorable untuk hanya muncul lalu hilang dari peredaran. Karena secara tidak langsung, pergerakan kultur komunitas dan pembangunan scene underground awal di Indonesia tumbuh pada era ini (baca- 90’an). (koran-jakarta.com).

Program ‘Music Plus’ tidak hanya menyajikan acara musik semata, melainkan juga menyuguhkan bincang – bincang cerdas seputar dunia musik dan perkembangannya. Menonton acara ini selain bisa memanjakan mata dan telinga dengan penampilan berkelas dari para musisi – musisi kelas atas, juga bisa menambah wawasan kita seputar musik. (imamhadikusuma.blogspot.com). Bagi sebagian musisi, acara tersebut bisa dijadikan sebagai acara reuni dari personil band maupun grup musik lainnya yang sudah sekian lama terpisah dan lebih memilih berkarir sendiri – sendiri.

Mengambil contoh dalam program ini ; Pada tanggal 29 Januari 2012, Bagus (vokalis dan basis grup band Netral) diundang dalam acara tersebut (baca – ‘Music Plus’) tanpa ditemani kompatriotnya yaitu Eno (drum) dan Coki (Gitar). Dalam tayangan musikal mingguan tersebut, pria bernama asli Bagus Dhanar Dhana ini terlihat tampil bersama Bimo (drum) dan Miten (gitar). Dua sosok yang menemani Bagus ini dikenal sebagai orang-orang yang jadi bagian dari formasi awal Netral sejak dibentuk tahun 11 November 1992 silam karena ikatan perkawanan antara SMAN 55 dan SMAN 60 Jakarta. Bersama formasi ini pula mereka sempat menghasilkan empat buah album. (salingsilang.com).

Memang perlu diakui, pasca hilangnya acara musik MTV, (dimana dalam acara tersebut menyajikan wawasan dan ulasan seputar dunia musik, baik tanah air maupun mancanegara) dan semakin menjamurnya acara – acara musik populer lainnya seperti inbox, dahsyat, mantap, dan lain sebagainya, yang hanya menampilkan genre musik yang monoton seperti melayu serta aksi lipsync boyband dan girlband ditambah lawakan – lawakan yang sama sekali tidak bermutu dari presenternya, menjadikan acara musik (live show) tersebut sebagai acara yang sama sekali tidak mengangkat nilai – nilai edukasi dan lebih cenderung ke arah sebatas hiburan membosankan semata.

Oleh karena itu, dengan munculnya program seperti ‘Music Plus’ (Music +) yang menyajikan acara bertajuk talk show dan sekaligus menyajikan penampilan musisi handal, yang ditayangkan di Metro TV (sesuai dengan tagline atau slogan Metro TV yaitu knowledge to elevate), diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi chanel – chanel TV lainnya agar dapat menyiarkan siaran musik yang berkualitas dan memiliki nilai edukasi.

B. Komodifikasi  Program ‘Musik Plus’ (Musik +)

Musik merupakan bagian dari seni yang menggunakan bunyi sebagai medianya. Musik juga dapat menggambarkan suasana hati seseorang dan karakter orang tersebut. Tanpa musik, dunia menjadi sepi, hampa dan monoton. Karena musik mampu mencairkan suasana, merelaksasi hati, serta menstimulasi pikiran manusia sebagai pemeran cerita kehidupan. Musik tak sekedar memberikan efek hiburan, tetapi mampu memberikan makna untuk membangkitkan gairah dan semangat hidup untuk memberdayakan dan memaknai hidup. (seputarinfomusik.blogspot.com).

Musik (sekarang) juga merupakan bagian dari dunia komersial. Banyak orang sangat mementingkan peran musik, sehingga mereka dapat mencerminkan atau mencoba untuk mengubah opini publik. Musik (juga) sering digunakan sebagai cara untuk mengekspresikan protes pada saat demo. Bahkan, sekarang tidak ada bencana di dunia ini yang tidak mendapatkan lagu sendiri untuk mengumpulkan uang (bantuan kemanusiaan) atau kesadaran penghuninya. (seputarinfomusik.blogspot.com).

Diusungnya musik era 90’an dalam program ini, dimana pada era tersebut perkembangan musik di tanah air sedang mengalami masa kejayaannya, diharapkan mampu menjadi komoditas yang berkelas serta mampu menjawab keresahan masyarakat akan minimnya tayangan yang berkualitas. Fenomena musik inilah yang diusung oleh Metro TV sebagai penarik minat masyarakat agar bisa dinikmati oleh para penikmat musik pada khususnya, dan masyarakat massa pada umumnya.

C. Relevansi Masyarakat Massa dan Media

Masyarakat dan media merupakan kedua hal yang tidak dapat dipisahkan. Ibaratkan dua sisi koin yang berbeda tetapi satu.  Banyak orang yang memiliki persepsi yang berbeda-beda, akan tetapi makna dari kedua sisi tersebut tetap satu, sulit, dan bahkan mustahil untuk dipisahkan. Ada beberapa dari mereka yang mengatakan dan memahami bahwa masyarakatlah yang membentuk media, dan ada juga dari mereka yang beranggapan berbeda, bahwa medialah yang mengontrol masyarakat. Kedua pemahaman tersebut memanglah cukup berbeda, akan tetapi maknanya tetap sama yakni masyarakat dan media adalah kedua hal yang berbeda tapi tidak dapat terpisahkan, yang sama halnya seperti dua sisi koin. (kompasiana.com). Dengan kata lain, apa yang dianggap penting oleh media akan dianggap penting pula oleh masyarakat. Dan apa yang dilupakan media akan luput juga dari perhatian masyarakat.

Musik – musik era 90’an adalah sebuah komoditas yang di usung oleh Metro TV dalam program ‘Music Plus’ tersebut. Bagi sebagian masyarakat yang pernah mengalami masa – masa tersebut dan mengikuti perkembangannya pasti merindukan kualitas yang memorable yang dihasilkan para musisi yang berpengalaman, bukan pragmatisme yang dilakukan para produser – produser dan insan – insan musik saat ini yang hanya mementingkan profit dan kepopuleran instan semata. Masyarakat yang cerdas dan berwawasan pasti memberikan respon positif terhadap munculnya program – program yang menyajikan sajian yang berkualitas dan memiliki nilai edukasi seperti ini.

Dalam hal ini, media sebagai sebuah institusi berperan menyampaikan informasi dan masyarakat sebagai penerimanya. Keduanya memiliki timbal balik yang (bisa dikatakan) saling menguntungkan, karena tidak adanya (baca – sedikitnya) campur tangan kepentingan pemegang kekuasaan politik dan ekonomi, meskipun dalam penayangannya masih cukup terdominasi oleh iklan – iklan dan jeda komersial. Namun, hadirnya program tersebut bisa dikatakan relevan dalam menjawab keresahan masyarakat akan menjamurnya program – program televisi yang non edukatif dan merindukan tayangan yang berkualitas .

D. Referensi :

  • Setyowati, Yuli : “ Komunikasi Massa [pdf] “. 2006

Tradisi “Shalawatan” dalam Perspektif Habib Syekh dan Ahbabul Musthofa

November 4th, 2010

1. Pendahuluan

Tradisi shalawatan  termasuk tradisi lisan. Menurut Drs. Muzakka,M.Hum, tradisi lisan  yaitu tradisi sastra yang mencakup ekspresi kesusastraan suatu kebudayaan yang disebarkan dan diturunkan secara lisan dari mulut ke mulut . Pada umumnya tradisi lisan tersebut berkembang pesat di dalam masyarakat yang lebih sedikit mengenal tulisan yaitu masyarakat pedesaan. Hal itu bukan berarti bahwa tradisi lisan tidak berkembang di dalam masyarakat perkotaan yang pada umumnya mengenal tulisan, tetapi peranan tradisi lisan ini dalam komunitas kota pada umumnya relatif kecil dan kurang signifikan (Hutomo, 1991)

Tradisi pembacaan shalawat Nabi atau yang sering kita dengar dengan istilah shalawatan sebenarnya adalah sebuah tradisi yang turun menurun dari leluhur sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai kekasih Allah, dan sebagai manusia terbaik sepanjang masa.

Perkembangannyapun dinilai cukup signifikan, selain difungsikan sebagai sarana untuk berdzikir dan mendoakan Rasulullah SAW, dan tidak menutup kemungkinan bahwa tradisi ini juga di gunakan sebagai alat pemersatu dan juga digunakan sebagai sarana politik untuk mendapatkan suara dan dukungan. Mengingat sebagian besar masyarakat yang mengenal shalawat adalah dari kalangan santri salaf yang dinilai sangat  ta’dzim dengan Kiainya.

Kembali ke esensi shalawat, seperti yang kita ketahui bersama karena Nabi Muhammad SAW dianggap ma’shum (telah di ampuni dosanya), maka mereka memisalkan Beliau sebagai gelas yang terisi penuh oleh air, sehingga apabila kita membacakan shalawat atau doa untuk beliau maka sama saja dengan menuangkan air dalam gelas tersebut, maka air tersebut akan tumpah. Begitu juga ketika membacakan shalawat atau mendoakan beliau, maka doa tersebut sebenarnya ditujukan untuk mereka sendiri.

Ketika kita melihat pada era sebelum kita, era dimana tradisi ini mulai dikenal masyarakat, shalawatan biasanya hanya terdapat dalam berbagai macam acara keagamaan semisal pengajian akbar,  dzikir, dan berbagai ritual lainnya di beberapa daerah tertentu. Akan tetapi ketika kita melihat pada era globalisasi ini, tradisi shalawatan telah mengalami beberapa perkembangan dalam pengaplikasiannya. Salah satu contohnya yaitu, berdirinya beberapa jama’ah atau kelompok – kelompok yang menyatakan diri mereka sebagai para pecinta rasul seperti Jamuro(Jama’ah Muji Rosul),dan Ahbaabul mushthofa.

Seiring berjalannya waktu dan perubahan paradigma masyarakat saat ini, dalam tradisi shalawatpun  muncul berbagai kekeliruan atau kesalahpahaman.  Diantaranya adalah mengkhususkan shalawat pada waktu – waktu tertentu yang tidak ditentukan oleh Rasulullah SAW untuk bersholawat. Walaupun memang ada saat – saat tertentu yang disunahkan untuk membaca shalawat.

Pada saat ini, umumnya dalam berbagai acara semisal hari ulang tahun suatu lembaga, shalawatan dianggap sebagai salahsatu alternatif yang sesuai untuk menyemarakkan acara HUT tersebut dari pada mengundang beberapa band atau pertunjukan lainnya. Kerena dinilai para penikmat dan pecinta shalawat lebih mudah di kondisikan dalam segi keeteraturan walaupun dalam jumlah yang cukup banyak,  dari pada para fans group band tertentu yang saling ejek, bahkan lazim sering berakhir dengan tawuran.

Untuk lebih memahami apa itu shalawat dan perkembangannya, mari kita lihat pada pembahasan selanjutnya.

2. Tradisi Shalawatan

Banyak pendapat tentang pengertian Sholawat untuk Nabi Muhammad SAW. Dan pendapat yang paling rajih menurut Abu Fauzan dalam www.aamsutisna.wordpress.com adalah seperti apa yang dikatakan oleh Abul Aliyah: “Sesungguhnya Shalawat dari Allah SWT itu adalah berupa pujian bagi orang yang bershalawat untuk beliau di sisi malaikat-malaikat yang dekat.” Imam Bukhari meriwayatkannya dalam kitab “Shohihul Bukhori” dengan komentar yang kuat. Dan ini adalah mengkhususkan dari rahmat-Nya yang bersifat umum. Pendapat ini diperkuat oleh syekh Muhammad bin ‘Utsaimin.

Salam: Artinya keselamatan dari segala kekurangan dan bahaya, karena dengan merangkaikan salam itu dengan sholawat maka kitapun mendapatkan apa yang kita inginkan dan terhapuslah apa yang kita takutkan. Jadi dengan salam maka apa yang kita takutkan menjadi hilang dan bersih dari kekurangan dan dengan sholawat maka apa yang kita inginkan menjadi terpenuhi dan lebih sempurna. Pendapat ini juga diutarakan dalam www.arrahmah.com pada hari Rabu, 20 Dzulqa’dah 1431 / 27 Oktober 2010.

Allah SWT telah berfirman :

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُواصَلُّواعَلَيْهِ وَسَلِّمُواتَسْلِيمًا

Artinya : Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya (QS. Al Ahzab: 56)

Secara kaidah ushul fiqih, , menurut apa yang disampaikan Ustadz Tri Bimo Soewarno.LC., M.A., bahwa “al ashlu fil amri lil wujub” (hukum asal suatu perintah adalah kewajiban yang harus dilakukan). Akan tetapi beliau juga mengatakan bahwa lafdzul Amr (kata perintah) mempunyai beberapa makna selain perintah karena berbedanya beberapa redaksi kata dan konteks penggunaannya, salah satunya adalah untuk ajakan (lidda’wah)

Maka dari itu perintah bersholawat tersebut belum tentu perintah untuk mengerjakannya. Akan tetap bisa dimaknai dengan ajakan ataupun himbauan. Karena dalam penggunaanya, kalimat amr tidak selalu berarti perintah bahkan bisa jadi kalimat amr itu menjadi doa semisal dalam contoh firman Allah SWT :

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya : Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan kebaikan di akhirat serta peliharalah kami dari siksa neraka (QS. Al Baqarah 201)

Ketika kita mengkaji surat Al Ahzab: 56, tentang shalawat kepada Nabi. Pada ayat tersebut terdapat kalimat bahwa Allah dan Malaikat –Malaikatnya bershalawat kepada Nabi, selanjutnya Allah memerintahkan orang-orang mukmin untuk bershalawat kepada Nabi. Maka bisa ditarik kesimpulan bahwa shalawat itu adalah doa , memberi berkah, dan ibadat.

Menurut “Prince of Jihad” dalam arrahmah.com, adapun cara bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW seperti dalam firman Allah di atas, yaitu Allah memerintahkan agar dalam bershalawat diikuti dengan salam, “Bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Q.S. Al-Ahzab: 56). Berdasarkan ayat tersebut yang utama adalah dengan menggandengkan shalawat dan salam, seperti shallallahu ‘alaihi wasallam.

Inilah bentuk shalawat dan salam untuk beliau saw secara umum. Maka tidak benar kalau mengucapkan salam kepada Rasulullah saw tanpa diikuti dengan shalawat, atau shalawat tanpa salam, seperti ‘alaihis salam atau allahumma shalli ‘alaih saja.

Selain dalam makna umum, shalawat harus terdiri dari shalawat dan salam, Rasulullah teleh memberikan contoh bacaan shalawat secara khusus, di dalam hadis disebutkan, dari Abi Hamid As-Radhiyallahu ‘Anhu- berkata: “Mereka bertanya: “Ya Rasulullah bagaimana kami bersholawat untukmu? Beliau menjawab: “Katakanlah :

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Artinya :“Ya Allah!. Berilah sholawat untuk Muhammad, istri-istri dan keturunannya, sebagaimana Engkau memberi sholawat untuk Ibrahim. Berkatilah Muhammad, istri-istri dan keturunannya, sebagaimana Engkau memberkati Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” [Muttafaqun ‘Alaihi]

Selain bacaan shalawat tersebut, masih ada beberapa riwayat lain yang menyebutkan bacaan shalawat sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah saw.

3. Ahbabul Musthofa dan Habib Syekh.

Ahbabul Musthofa  adalah komunitas berkumpulnya para pecinta beliau Al Habib Syekh. Yang dalam dakwah Beliau selalu mengajak kita untuk selalu mencintai Allah SWT, Rasulullah Muhammad SAW, dan mencintai sesama manusia.

Di dalam salah satu sumber yaitu Majalah Kisah Islam AlKisah No.18/25 Agustus-7 September 2008, adapun biografi beliau adalah sebagai berikut. Nama Beliau adalah Habib Syekh bin Abdul Qadir Asseggaf. H. Abdullah Faqih menambahkan bahwa Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf adalah salah satu putra dari 16 bersaudara putra-putri Alm. Al-Habib Abdulkadir bin Abdurrahman Assegaf ( tokoh alim dan imam Masjid Jami’ Asegaf di Pasar Kliwon Solo), berawal dari pendidikan yang diberikan oleh guru besarnya yang sekaligus ayah handa tercinta, Habib Syech mendalami ajaran agama dan Ahlaq leluhurnya. Berlanjut sambung pendidikan tersebut oleh paman beliau Alm. Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf yang datang dari Hadramaut. Habib Syekh juga mendapat pendidikan, dukungan penuh dan perhatian dari Alm. Al-Imam, Al-Arifbillah, Al-Habib Muhammad Anis bin Alwiy Al-Habsyi (Imam Masjid Riyadh dan pemegang maqom Al-Habsyi). Berkat segala bimbingan, nasehat, serta kesabaranya, Habib Syekh bin Abdul Qadir Assegaf menapaki hari untuk senantiasa melakukan syiar cinta Rosull yang diawali dari Kota Solo.

Waktu demi waktu berjalan mengiringi syiar cinta Rosullnya, tanpa di sadari banyak umat yang tertarik dan mengikuti majelisnya, hingga saat ini telah ada ribuan jama’ah yang tergabung dalam Ahbabul Musthofa. Mereka mengikuti dan mendalami tetang pentingnya Cinta kepada Rosull SAW dalam kehidupan ini.

Sebagai seorang Da’I , mungkin Beliau belum terlalu dikenal secara luas di masyarakat pada umumnya. Namun di kalangan jamaah majelis shalawat atau kegiatan Maulidan, Beliau cukup dikenal. Terutama karena tokoh yang satu ini memiliki suara yang sangat merdu.

Selain itu beliau juga menciptakan sendiri lagu qashidah yang nada dan iramanya dapat diterima  oleh telinga masyarakat, baik masyarakat yang akrab dengan kegiatan majelis shalawat maupun masyarakat awam.

Dengan suara Beliau yang merdu, Habib yang satu ini berhasil memikat kalangan muda bahkan anak – anak sehingga mereka menyukai qashidah dengan syair – syair yang seluruhnya bersumber dari kitab Simthud Durar. Tidak jarang pula kemudian kalangan muda ikut bergabung dalam beberapa majelis shalawat yang sudah ada.

Sebenarnya, beberapa syair – syair qashidah yang dibawakan beliau bukanlah syair puji-pujian yang baru, akan tetapi Habib Syekh berhasil membentuk dan mengemas irama pembacaan maulid Tradisional ini menjadi lebih indah dan menggoda telinga yang mendengarnya.

Selain itu, Habib Syekh bin Abdul Qadir Asseggaf ini juga suka berbagi dan memberi, meskipu Beliau sendiri terkadang dalam kekurangan. Bahkan ketika mengawali dakwahnya ke pelosok-pelosok, ia membawa nasi bungkus, untuk dibagi-bagikan kepada para jamaah.

Perjalanan hidup Habib kelahiran  Solo, 20 September 1961  ini cukup berliku. Beliau pernah meangalami masa kejayaan sebagai pedagang tapi kemudian bangkrut. Di saat sulit itu, Habib Syekh melakukan dakwah menggunakan kereta angin ke pelosok-pelosok untuk melaksanakan tugas dari guru Beliau, yaitu almarhum Habib Anis bin Alwi Alhabsyi, imam masjid Riyadh Gurawan, Solo.

Pada saat itu Habib Syekh bin Abdul Qadir Asseggaf juga sering diejek sebagai orang yang tidak punya pekerjaan dan dianggap sebagai Habib jadi-jadian. Namun Habib Syekh tidak pernah marah atau mendendam kepada orang yang mengejek dan menghinanya. Akan tetapi sebaliknya, beliau tetap tersenyum dan memberi sesuatu kepada orang tersebut.

Terkadang Habib Syekh bin Abdul qadir Asseggaf rutin memberikan ta’lim di Kebagusan, sedangkan dakwah rutinnya di kota Solo dan kota kota di jawa tengah.

Sedangkan Ahbabul Musthofa menurut H. Abdullah Faqih, adalah salah satu dari beberapa majelis yang ada untuk mempermudah umat dalam memahami dan mentauladani Rosull SAW, berdiri sekitar Tahun1998 di kota Solo, tepatnya Kampung Mertodranan, berawal dari majelis Rotibul Haddad dan Burdah serta maulid Simthut Duror Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf memulai langkahnya untuk mengajak umat dan dirinya dalam membesarkan rasa cinta kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW .

Adapun beberapa agenda Ahbabul Musthofa adalah sebagai berikut :

–          Pengajian Rutin (zikir & sholawat)

  • Setiap hari Rabu Malam dan Sabtu Malam Ba’da Isyak di Kediaman Habib Syech bin Abdulkadir Assegaf .

–          Pengajian Rutin Selapanan Ahbabul Musthofa

  • Purwodadi ( Malam Sabtu Kliwon ) di Masjid Agung Baitul Makmur Purwodadi.
  • Kudus ( Malam Rabu Pahing ) di Halaman Masjid Agung Kudus.
  • Jepara ( Malam Sabtu Legi ) di Halaman Masjid Agung Jepara .
  • Sragen ( Malam Minggu Pahing ) di Masjid Assakinah, Puro Asri, Sragen.
  • Jogja ( Malam Jum’at Pahing ) di Halaman PP. Minhajuttamyiz, Timoho, di belakang Kampus IAIN.
  • Solo ( Malam Minggu Legi ) di Halaman Mesjid Agung Surakarta.

4. Kesimpulan

Seperti yang telah diutarakan di atas, bahwa pekembangan tradisi shalawatan di dalam masyarakat sudah berkembang cukup pesat. Dengan di kemas secara apik oleh Habib Syekh Abdul Qadir Assegaf, perkembangannya pun bisa dikatakan sangat bagus.

Hadirnya tradisi shalawatan yang modern saat ini, menghilangkan kesan bahwa tradisi tersebut adalah tradisi yang kuno atau ketinggalan jaman. Bahkan seperti yang kita lihat pada saat ini, anak – anak muda, bahkan anak kecilpun sering ikut andil dalam meramaikan tradisi ini.

Semoga Allah SWT mengampuni semua dosa – dosa kita. Amin.

5. Daftar Pustaka

1. http://oediku.wordpress.com/2009/02/25/indahnya-bershalawat-kepada-rasulullah-saw/

2.http://arrahmah.com/index.php/blog/read/1677/shalawat-kepada-nabi-antara-yang-masyru-dan-bidah

3.http://gilabuku.com/shop.html?page=shop.product_details&flypage=flypage.tpl&product_id=2941&category_id=23&vmcchk=1

4.http://aamsutisna.wordpress.com/category/pengertian-shalawat/

5.http://www.facebook.com/home.php?sk=lf#!/pages/SYEKHER-MANIA-CLUB-PECINTA-HABIB-SYEKH-BIN-AA/194364987651?v=info

6.https://jamansemana.wordpress.com/2010/08/16/mp3-qasidah-habib-syekh-bin-abdul-qodir-asseggaf/